Rabu, 20 Agustus 2014

Usaha keras tidak akan mengkhianati



Siang itu cuaca sangat panas. Seorang anak lelaki berusia sekitar 18 tahun duduk disebuah warung sambil minum segelas es teh. Rambutnya gondrong, berantakan, sepertinya memang tak disisir. Bajunya lusuh dan kotor, dia terlihat membawa sepuntung rokok terapit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Namanya rafi. Tidak ada yang menyangka bahwa sebenarnya dia adalah salah seorang siswa dari sekolah ungguan di ibukota. Jika melihat dari penampilan dan tingkah lakunya, setiap orang yang melihat pasti akan mengira bahwa dia seorang preman pasar.
                Seperti biasa, hari itu dia lagi-lagi membolos. Entah ini sudah kali keberapa dia meninggalkan kelas. “Kamu ngga sekolah lagi, Fi?” tanya ibu penjaga warung. “Enggak ah, bu. Ngapain,” jawab Rai santai. “Kasihan lho orang tuamu udah ngebiayain kamu sekolah mahal-mahal tapi sama kamu disia-siain,” kata ibu penjaga warung yang sepertinya juga tak menyukai perilaku Rafi yang suka membolos itu. Tetapi, apapun yang dikatakan orang-orang, Rafi tetap saja tak acuh dan menanggapinya dengan santai.
                Sementara itu di sekolah Rafi, teman-teman Rafi sudah sangat hafal dengan kelakuanya. Sejak kelas 2 SMA, Rafi memang terkenal sering membolos, mulai dari alasan sakit, ada kepentingan keluarga, sampai membuat alasan jika suadaranya ada yang meninggal pun dia jadikan alasan untuk membolos. Sebenarnya, teman-temannya telah mengetahui jika Rafi berbohong. Mereka telah mengetahui jika itu semua hanya alasan supaya ia bisa membolos, tetapi mereka memilih untuk cuekk dan tidak peduli. Mereka malas jika harus berurusan dengan dan diintrogasi oleh para guru mengenai keadaan Rafi. Rafi pun tetap cuek walaupun dia tahu bahwa teman-temannya telah mengetahui jika ia sebenarnya membolos. Dalam satu semester, bisa diitung beberapa hari dia erangkat ke sekolah. Biasanya, Rafi berangkat jika sedang ulangan atau ujian. Pada saat kegiatan belajar mengajar seperti biasa, Rafi jarang berangkat. Terlebih setelah dia kelas dua belas (3SMA), berbeda dengan teman-temannya yang lain yang sibuk mempersiapkan ujian nasional, Rafi tetap santai dan tetap sering membolos ke sekolah. Dia lebih memilih untuk berkupu dengan teman-teman mainnya yang tidak jelas darimana asal-usul dan latar belakangnya.
                Ujian nasional pun tiba. Rafi mengikuti ujian nasional dengan bekal materi seadanya, yang tentunya tidak lebih matang dari teman-temannya yang lain. Rafi merasa kesussahan, tetapi dia tidak peduli. Dia tidak peduli apakah nantinya dia akan lulus ujian itu atau tidak. Hari demi hari dilaluinya,  hari sudah dia mengikuti ujian nasional.
                Beberapa hari kemudian, tibalah saat pengumuman ujian nasional. Diumumkan bahwa ada satu anak yang tidak lulus. Ya, anak itu adalah Rafi. Teman-temannya sudah mengira jika Rafi tidak akan lulus ujian nasional, mereka tahu pasti keadaan Rafi yang mengikuti ujian tanpa persiapan yang matang. Berbeda dengan teman-temannya, orang tua Rafi terutama ibunya merasa sangat terpukul. Beliau tidak percaya jika anaknya itu tidak lulus ujian nasional. Dimatanya, Rafi adalah anak yang penurut dan rajin belajar serta ibadah, beliau tidak mengetahui jika Rafi sering membolos.
                Ibu Rafi tidak daoat berhenti menangis. Tidak terbayangkan olehnya bagaimana masa dean anaknya kelak. Rafi merasa iba melihat ibunya terus menangis, dia merasa sangat bersalahkarena membuat ibunya bersedih. Sejak saat itu, dia sadar bahwa dia belum melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak, yaitu membahagiakan orang tua. Dia bertekad akan membahagiakan kedua orang tuanya, terutama ibunya. Mulai saat itu, ia belajar dengan tekun untuk mempersiapkan ujiannya tahun depan. Dia rajin bersekolah dan tidak pernah membolos lagi. Guru-guru Rafi di sekolah melihat perubahan yang positif dari diri Rafi. Meskipun orang lain memandangnya sebelah mata, tetapi dia tidak memperdulikannya. Yang dia pikirkan hanya bagaimana agar dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Rafi tidak pernah merasa gengsi ataupun malu, justru cemoohan dari orang-orang itu membuatnya lebih bersemagat dalam menggapai cita-citanya. Dia pun memperbaiki perilaku dalam kehidupannya, yang awalnya cuek dan tidak peduli menjadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Satu tahun ini dia banyak melakukan hal-hal yang postif, dia juga mulai meninggalkan teman-teman mainnya yang telah membawana ke arah yang negatif.
                Ujian nasional yang kedua bagi Rafi pun dimulai, dia mengerjakan ujian dengan lancar karena ia telah mempersiapkannya dengan matang. Akhirnya, Rafi pun lulus dan masuk dalam 10 besar yang mendapat nilai terbaik dalam ujian nasional di sekolahnya. Setelah itu, diapun diterima bekerja di suatu perusahaan swasta. Berkat kerja kerasnya, pada tahun kedua dia bekerja, dia dilantik menjadi manager. Orang tuanya pun sangat bangga karena Rafi dapat membuktikan jika dia bisa berubah ke arah yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar