Siang itu cuaca sangat panas.
Seorang anak lelaki berusia sekitar 18 tahun duduk disebuah warung sambil minum
segelas es teh. Rambutnya gondrong, berantakan, sepertinya memang tak disisir. Bajunya
lusuh dan kotor, dia terlihat membawa sepuntung rokok terapit diantara jari
telunjuk dan jari tengahnya. Namanya rafi. Tidak ada yang menyangka bahwa
sebenarnya dia adalah salah seorang siswa dari sekolah ungguan di ibukota. Jika
melihat dari penampilan dan tingkah lakunya, setiap orang yang melihat pasti
akan mengira bahwa dia seorang preman pasar.
Seperti
biasa, hari itu dia lagi-lagi membolos. Entah ini sudah kali keberapa dia
meninggalkan kelas. “Kamu ngga sekolah lagi, Fi?” tanya ibu penjaga warung. “Enggak
ah, bu. Ngapain,” jawab Rai santai. “Kasihan lho orang tuamu udah ngebiayain
kamu sekolah mahal-mahal tapi sama kamu disia-siain,” kata ibu penjaga warung
yang sepertinya juga tak menyukai perilaku Rafi yang suka membolos itu. Tetapi,
apapun yang dikatakan orang-orang, Rafi tetap saja tak acuh dan menanggapinya
dengan santai.
Sementara
itu di sekolah Rafi, teman-teman Rafi sudah sangat hafal dengan kelakuanya. Sejak
kelas 2 SMA, Rafi memang terkenal sering membolos, mulai dari alasan sakit, ada
kepentingan keluarga, sampai membuat alasan jika suadaranya ada yang meninggal
pun dia jadikan alasan untuk membolos. Sebenarnya, teman-temannya telah
mengetahui jika Rafi berbohong. Mereka telah mengetahui jika itu semua hanya
alasan supaya ia bisa membolos, tetapi mereka memilih untuk cuekk dan tidak
peduli. Mereka malas jika harus berurusan dengan dan diintrogasi oleh para guru
mengenai keadaan Rafi. Rafi pun tetap cuek walaupun dia tahu bahwa
teman-temannya telah mengetahui jika ia sebenarnya membolos. Dalam satu
semester, bisa diitung beberapa hari dia erangkat ke sekolah. Biasanya, Rafi
berangkat jika sedang ulangan atau ujian. Pada saat kegiatan belajar mengajar
seperti biasa, Rafi jarang berangkat. Terlebih setelah dia kelas dua belas (3SMA),
berbeda dengan teman-temannya yang lain yang sibuk mempersiapkan ujian
nasional, Rafi tetap santai dan tetap sering membolos ke sekolah. Dia lebih
memilih untuk berkupu dengan teman-teman mainnya yang tidak jelas darimana
asal-usul dan latar belakangnya.
Ujian
nasional pun tiba. Rafi mengikuti ujian nasional dengan bekal materi seadanya,
yang tentunya tidak lebih matang dari teman-temannya yang lain. Rafi merasa
kesussahan, tetapi dia tidak peduli. Dia tidak peduli apakah nantinya dia akan
lulus ujian itu atau tidak. Hari demi hari dilaluinya, hari sudah dia mengikuti ujian nasional.
Beberapa
hari kemudian, tibalah saat pengumuman ujian nasional. Diumumkan bahwa ada satu
anak yang tidak lulus. Ya, anak itu adalah Rafi. Teman-temannya sudah mengira
jika Rafi tidak akan lulus ujian nasional, mereka tahu pasti keadaan Rafi yang
mengikuti ujian tanpa persiapan yang matang. Berbeda dengan teman-temannya,
orang tua Rafi terutama ibunya merasa sangat terpukul. Beliau tidak percaya
jika anaknya itu tidak lulus ujian nasional. Dimatanya, Rafi adalah anak yang
penurut dan rajin belajar serta ibadah, beliau tidak mengetahui jika Rafi
sering membolos.
Ibu
Rafi tidak daoat berhenti menangis. Tidak terbayangkan olehnya bagaimana masa
dean anaknya kelak. Rafi merasa iba melihat ibunya terus menangis, dia merasa
sangat bersalahkarena membuat ibunya bersedih. Sejak saat itu, dia sadar bahwa
dia belum melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak, yaitu membahagiakan
orang tua. Dia bertekad akan membahagiakan kedua orang tuanya, terutama ibunya.
Mulai saat itu, ia belajar dengan tekun untuk mempersiapkan ujiannya tahun
depan. Dia rajin bersekolah dan tidak pernah membolos lagi. Guru-guru Rafi di
sekolah melihat perubahan yang positif dari diri Rafi. Meskipun orang lain
memandangnya sebelah mata, tetapi dia tidak memperdulikannya. Yang dia pikirkan
hanya bagaimana agar dapat membahagiakan kedua orang tuanya. Rafi tidak pernah
merasa gengsi ataupun malu, justru cemoohan dari orang-orang itu membuatnya
lebih bersemagat dalam menggapai cita-citanya. Dia pun memperbaiki perilaku
dalam kehidupannya, yang awalnya cuek dan tidak peduli menjadi lebih peduli
terhadap lingkungan sekitarnya. Satu tahun ini dia banyak melakukan hal-hal
yang postif, dia juga mulai meninggalkan teman-teman mainnya yang telah
membawana ke arah yang negatif.
Ujian nasional
yang kedua bagi Rafi pun dimulai, dia mengerjakan ujian dengan lancar karena ia
telah mempersiapkannya dengan matang. Akhirnya, Rafi pun lulus dan masuk dalam
10 besar yang mendapat nilai terbaik dalam ujian nasional di sekolahnya.
Setelah itu, diapun diterima bekerja di suatu perusahaan swasta. Berkat kerja
kerasnya, pada tahun kedua dia bekerja, dia dilantik menjadi manager. Orang tuanya
pun sangat bangga karena Rafi dapat membuktikan jika dia bisa berubah ke arah
yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar